Pentingnya Proses Sebelum Memperoleh Hasil

Sampai saat ini, matematika masih dianggap sebagai mata pelajaran yang penting untuk dipelajari. Seorang siswa yang sedang belajar di sekolah, tidak bisa menghindar dari mata pelajaran yang bernama matematika. Bagi yang terlanjur tidak suka dengan matematika, hal ini mungkin akan menjadi penderitaan. Orang tua juga sadar akan pentingnya matematika dikuasai oleh anak-anaknya yang sedang bersekolah. Apabila terlihat tanda-tanda anak tidak paham dengan matematika, misalnya dengan nilai matematika di sekolah tidak memuaskan, orang tua langsung khawatir kepada anaknya. Segala cara ditempuh agar anaknya bisa memperbaiki ketidakmampuan dalam matematika. Matematika kadang disalahartikan. Bagi sebagian orang, indikator bisa-tidaknya seorang anak memahami matematika adalah dengan melihat kemampuan anak dalam berhitung. Hal ini mungkin akan menjadi perhatian, khususnya bagi orang tua yang memiliki anak usia sekolah dasar. Salah satu pemikiran yang mungkin terbentuk adalah anaknya akan bisa matematika kalau dia mahir berhitung dengan cepat. Akhirnya langkah yang ditempuh adalah dengan memasukkan anak ke tempat les yang memiliki embel-embel "teknik berhitung cepat". Yang selanjutnya terjadi adalah kalau anaknya benar-benar serius dan menekuni metode berhitung yang diberikan, dia akan sangat mahir menghitung cepat. Dan, orang tua pun bangga. Saat ditanya 12 x 57, dalam hitungan detik anak bisa menjawab. Sungguh hebat!!!

Siswa belajar matematika bukan hanya diharapkan mendapatkan hasil dari permasalahan matematika yang diberikan. Pembelajaran matematika melatih seseorang agar dapat berpikir logis dan sistematis. Pada saat belajar bilangan dan aritmatika misalnya, perlu dipahami oleh siswa bagaimana mendapatkan hasil dari permasalahan yang diberikan. Teknik menghitung cepat yang diajarkan mungkin saja mengenyampingkan proses yang seharusnya dipahami siswa. Sebagai contoh, perhatikan bahwa 9 x 7 = 63. Dengan metode berhitung cepat, hasil 63 akan dengan mudah didapat. Namun, apakah siswa mengerti dari mana hasil tersebut didapat?

Penyampaian materi baru kepada siswa hendaknya tidak secara langsung, melainkan dikaitkan dengan materi sebelumnya. Misalnya, ketika melakukan pembelajaran mengenai konsep perkalian, siswa terlebih dahulu diajarkan mengenai penjumlahan berulang. Konsep penjumlahan ini telah diberikan sebelumnya kepada siswa. Sebagai contoh, perkalian 9 x 7 bisa diartikan sebagai 7+7+7+7+7+7+7+7+7. Siswa pun akan mendapatkan hasilnya karena sudah bisa mencari hasil dari penjumlahan bilangan. Secara proses perkalian 9 x 7 berbeda dengan perkalian 7 x 9. Perkalian 7 x 9 diartikan sebagai 9+9+9+9+9+9+9, hasilnya akan sama dengan hasil perkalian 9 x 7 dan muncullah sifat operasi perkalian yang kemudian disebut sebagai sifat komutatif. Dengan diberikan konsep seperti ini, siswa akan dapat berpikir lebih terbuka. Cara cepat boleh saja diberikan setelah konsep dasar dapat dipahami dengan baik.

Karena metode berhitung cepat hanya berorientasi kepada hasil, permasalahan yang mungkin terjadi adalah siswa dapat dengan mudah menyebutkan hasil dari 9 x 7. Tetapi ketika diminta menyebutkan bilangan berapa saja yang hasil perkaliannya 63, siswa mungkin akan bingung menjawabnya. Hal ini akan menghambat pemahaman siswa mengenai konsep faktor bilangan bulat.

Oleh Opan

Seorang guru matematika yang hobi menulis tiga bahasa, yaitu bahasa indonesia, matematika, dan php. Dari ketiganya terwujudlah website ini sebagai sarana berbagi pengetahuan yang dimiliki.

Demi menghargai hak kekayaan intelektual, mohon untuk tidak menyalin sebagian atau seluruh halaman web ini dengan cara apa pun untuk ditampilkan di halaman web lain atau diklaim sebagai karya milik Anda. Tindakan tersebut hanya akan merugikan diri Anda sendiri. Jika membutuhkan halaman ini dengan tujuan untuk digunakan sendiri, silakan unduh atau cetak secara langsung.

Rumus Matematika Bukanlah Mesin Penghasil Jawaban Soal Matematika
Rumus-Rumus Pangkat


Kunjungan Halaman Bulan Ini
Protected by Copyscape CodeCogs - An Open Source Scientific Library